Ancam Ketahanan Pangan, Distan Banjar Gempur Hama Walang Sangit di Martapura Barat

BANJAR, InfoPublik - Dinas Pertanian Kabupaten Banjar (Distan) melalui Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura menggelar gerakan pengendalian Organisme Pangganggu Tumbuhan (OPT) walang sangit di Desa Sungai Rangas Kecamatan Martapura Barat, Rabu (26/8/2026).

Langkah sigap ini dilakukan untuk melindungi areal persawahan seluas ± 20 hektare dari ancaman penurunan kualitas akibat serangan hama pada malai padi.

Gerakan ini dihadiri Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Nurul Chatimah, Pembakal Desa Sungai, Rangas, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Koordinator Penyuluh, PPL, PPS serta POPT Kecamatan Martapura Barat, Ketua dan anggota kelompok tani Usaha Baru.

Ancaman membayangi petani hama walang sangit yang menyerang fase masak susu padi. Berdasarkan laporan POPT, populasi hama di lapangan telah melewati ambang batas, yakni lebih dari 6 ekor per rumpun. Jika dibiarkan tanpa penanganan cepat dan terpadu, potensi kehilangan hasil bisa mencapai 30 persen per hektare yang tidak hanya merugikan petani secara ekonomi, tetapi juga mengancam stabilitas pangan.

Dalam aksi pengendalian ini, metode hayati dan ramah lingkungan menjadi pilihan utama. Petani memasang perangkap sederhana dari botol bekas air mineral di pinggiran sawah. Di dalam botol yang diberi dasar air atau oli tersebut, dimasukkan umpan berbau menyengat seperti terasi, keong mas, atau ikan mati untuk menjebak walang sangit agar jatuh dan mati, atau langsung diamankan menggunakan plastik.

Sementara itu, penggunaan pestisida kimia ditempatkan sebagai langkah alternatif terakhir jika populasi hama sudah tidak terkendali secara hayati. Meski demikian, para petani tetap dibekali praktik teknis dan penyuluhan mengenai cara mencampur serta menyemprotkan pestisida kimia secara tepat dan aman.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Nurul Chatimah menyampaikan "Pengendalian Hama Terpadu atau PHT bukan berarti memusnahkan hama sepenuhnya, melainkan mengelola ekosistem secara bijak agar populasinya tetap berada di bawah ambang ekonomi. Pestisida kimia kini kita posisikan sebagai benteng pertahanan terakhir, bukan lagi pilihan pertama," ujar Nurul.

"Melalui Sekolah Lapang PHT, kita ingin mencetak petani yang benar-benar menjadi ahli di lahannya sendiri. Dengan mengadopsi teknologi ini, biaya produksi berhasil ditekan, residu kimia pada hasil panen terpangkas drastis, dan kesejahteraan petani pun semakin terjaga," pungkas Nurul.
(Brigade Distan Syaripuddin)


Komentar