Cegah Anak Putus Sekolah, SMPN 2 Kertak Hanyar Sosialisasikan Wajib Belajar 13 Tahun
KERTAK HANYAR, InfoPublik – SMPN 2 Kertak Hanyar menggelar sosialisasi bertajuk “Kenali, Pahami, Dampingi: Peran Orang Tua dalam Mencegah Potensi Anak Tidak Sekolah (ATS)” pada Jumat (18/9/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia (APPI) Wilayah Kalimantan Selatan, Rika Vira Zwagery, M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber untuk memperkuat pemahaman keluarga dalam mendukung Program Wajib Belajar 13 Tahun.
Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium IPA SMPN 2 Kertak Hanyar pukul 09.00–11.00 WITA itu diikuti 10 siswa dan 10 orang tua. Sosialisasi menjadi bagian dari upaya sekolah meningkatkan keterlibatan keluarga dalam pendampingan pendidikan sekaligus mencegah potensi Anak Tidak Sekolah.
Rika menyampaikan materi mengenai pola pengasuhan, komunikasi keluarga, serta pendampingan emosional bagi anak. Ia menjelaskan bahwa potensi anak tidak melanjutkan sekolah dapat diawali dengan sejumlah perubahan yang perlu dikenali dan mendapat perhatian dari orang tua.
“Anak yang berpotensi putus sekolah sering kali menunjukkan tanda-tanda awal, seperti perubahan perilaku atau penurunan minat belajar. Di sinilah peran vital orang tua untuk mengenali dan mendampingi, bukan menghakimi. Komunikasi yang terbuka di rumah menjadi benteng utama mencegah anak putus sekolah,” ujar Rika.
Menurutnya, anak yang menghadapi kesulitan belajar maupun persoalan sosial dan emosional membutuhkan ruang yang aman untuk menyampaikan permasalahan. Keterbukaan komunikasi di lingkungan keluarga dapat membantu orang tua mengetahui kondisi anak lebih dini dan berkoordinasi dengan sekolah untuk menemukan langkah pendampingan yang tepat.
Salah seorang perwakilan orang tua mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya keterlibatan keluarga dalam menjaga keberlanjutan pendidikan anak. “Kami jadi lebih paham bahwa tugas mengawal pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi berawal dari rumah. Kami belajar bagaimana cara merangkul anak saat mereka mengalami kendala belajar agar tetap bersemangat melanjutkan sekolah,” ungkapnya.
SMPN 2 Kertak Hanyar berharap kegiatan tersebut semakin memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam mencegah ATS. Pengenalan tanda-tanda awal, pemahaman terhadap kondisi anak, serta pendampingan yang tepat diharapkan dapat mendukung keberlangsungan pendidikan anak dan pelaksanaan Program Wajib Belajar 13 Tahun.
