FTBI 2026 Tingkat SD, Disdik Banjar Dorong Generasi Muda Lestarikan Bahasa Daerah
MARTAPURA, InfoPublik – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banjar menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang SD Tingkat Kabupaten Banjar Tahun 2026, Kamis (20/8/2026), bertempat di Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya daerah.
Festival dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, Hj. Liana Penny, S.T., M.S. Kegiatan diikuti peserta dari jenjang Sekolah Dasar yang berkompetisi dalam lima cabang lomba, yakni menulis cerita pendek sebanyak 30 peserta, bakisah/bercerita 31 peserta, bapandung/komedi 30 peserta, pidato 32 peserta, serta menulis dan membaca puisi sebanyak 25 peserta.
Dalam sambutannya, Hj. Liana Penny menegaskan pentingnya revitalisasi bahasa daerah sebagai bagian dari upaya perlindungan bahasa daerah sekaligus menambah penutur muda. "Revitalisasi bahasa daerah sebagai salah satu upaya pelindungan bahasa daerah pada intinya adalah kegiatan untuk menambah penutur muda," ujarnya.
Ia menjelaskan, penambahan penutur muda perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui lingkungan sekolah, komunitas, dan keluarga. FTBI menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap proses pewarisan bahasa daerah sekaligus sarana untuk meningkatkan kemahiran dan kreativitas siswa dalam berbahasa daerah.
"Festival Bahasa Ibu diselenggarakan secara berjenjang hingga ke tingkat provinsi sebagai bentuk penguatan terhadap bahasa daerah sebagai bahasa pertama yang diperoleh seorang anak. Bahasa ibu layak untuk dipertahankan, dilestarikan, dan dikembangkan," kata Liana.
Beragam cabang lomba dalam FTBI dirancang untuk mengasah kemampuan siswa, seperti bercerita, berpidato, menulis cerita, serta menulis dan membaca puisi. Kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan rasa percaya diri peserta sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap kekayaan bahasa, sastra, dan aksara daerah.
FTBI juga diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang aktif menggunakan, mencintai, dan bangga terhadap bahasa daerah. Selain memperkuat identitas budaya, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga keberagaman bahasa Indonesia agar tetap lestari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
