Dihadapkan Kemarau Panjang, Distan Banjar Dorong Petani Tanam Padi Unggul Berumur Pendek

Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Banjar kembali memperkokoh kinerjanya di awal pekan dengan menggelar apel pagi rutin di halaman kantor, Senin (27/7/2026). Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas formalitas, melainkan momentum penting untuk menyelaraskan langkah dan semangat seluruh jajaran sebelum memulai pelayanan kepada masyarakat.

Selain menjadi wadah penyampaian informasi dan instruksi, agenda mingguan ini dirancang khusus sebagai sarana untuk memperkuat kedisiplinan pegawai. Lebih dari itu, apel pagi ini menjadi komitmen seluruh aparatur sipil negara (ASN) dalam mengemban amanah sebagai pelayan publik di sektor pertanian.

Suasana khidmat terasa saat seluruh pegawai berbaris rapi mengikuti jalannya apel yang dipimpin oleh Abdur Rafik. Pada kesempatan kali ini, Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura mendapatkan kehormatan untuk bertindak sebagai petugas pelaksana apel.

Dalam amanatnya Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Nurul Chatimah mengungkapkan "Tahun ini, Kalimantan Selatan menghadapi kemarau terpanjang dan paling ekstrem dalam 30 tahun terakhir yang datang lebih cepat sejak bulan Mei, sehingga ratusan hektare sawah di wilayah seperti Beruntung Baru, Sungai Tabuk, hingga Martapura Barat. Sebelumnya dihantam serangan hama tungro di awal tahun serta mundurnya jadwal tanam akibat banjir, hingga akhirnya tanaman mereka keburu mengalami kekeringan ekstrem sebelum sempat berbuah akibat krisis air dan kendala BBM untuk pompanisasi," ungkap Nurul. 

"Sebaliknya, para petani yang menanam padi unggul berumur pendek justru lebih beruntung karena sudah mulai panen pada bulan Juni - Juli, luput dari hantaman kekeringan terburuk," ujar Nurul. 

Melihat kondisi iklim yang semakin tidak menentu, Dinas Pertanian khususnya Bidang Tanaman Pangan Hortikultura memikul tugas berat untuk mengubah mindset petani. "Langkah transformatif yang didorong meliputi, tidak meninggalkan total tradisi menanam padi lokal, namun memadukannya dengan penanaman padi unggul berumur pendek. Strategi mitigasi risiko jika padi lokal gagal akibat cuaca ekstrem atau hama, petani masih memiliki cadangan hasil panen dari padi unggul yang lebih tangguh dan cepat panen," ujar Nurul.

"Langkah transformasi ini bukan berarti menghilangkan identitas pertanian lokal, melainkan sebuah bentuk adaptasi cerdas demi keselamatan ekonomi petani itu sendiri. Dengan menerapkan pola tanam ganda atau intercropping antara varietas lokal dan unggul, risiko kegagalan panen dapat diredam. Harapannya, para petani di Kabupaten Banjar dapat lebih tangguh menghadapi anomali cuaca di masa depan, sehingga ketahanan pangan daerah terus terjaga dengan baik," pungkas Nurul. 
(Brigade Distan Syaripuddin)


Komentar