BSI Kupas Inovasi dan Strategi Penanganan Stunting

MARTAPURA – Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Banjar kembali menggelar webinar Bapperida Sapa Inovator (BSI) dengan mengangkat tema Penguatan Kapasitas Penanganan Stunting, Jumat (16/10/2026) siang. Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini diikuti kurang lebih 130 peserta secara daring dan menghadirkan dua narasumber untuk membahas optimalisasi pemanfaatan data serta inovasi pelayanan kesehatan sebagai langkah strategis dalam mempercepat penurunan stunting di Kabupaten Banjar.


Membuka kegiatan melalui Zoom, Plt Sekretaris Bapperida Kabupaten Banjar, Dedi Nurmadi, menyampaikan bahwa stunting masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian dan penanganan bersama secara berkelanjutan. Menurutnya, upaya penurunan stunting tidak cukup hanya melalui intervensi kesehatan, tetapi juga memerlukan dukungan data yang akurat, inovasi pelayanan, serta kolaborasi lintas sektor.

 


Ia berharap melalui BSI, para peserta dapat memperoleh wawasan baru, saling berbagi pengalaman, sekaligus mendorong lahirnya solusi inovatif yang dapat diterapkan secara nyata untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya ibu dan anak di Kabupaten Banjar.


Dipandu Fungsional Perencana Muda Bapperida Kabupaten Banjar, Sihabuddin, webinar menghadirkan Ahmadi Murjani, Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kalimantan Selatan, dengan materi Optimalisasi Data E-PPGBM dalam Percepatan Penurunan Stunting. Selain itu, hadir pula Taufik Rahmadi, Dokter Spesialis Gizi Klinik RSUD Ratu Zalecha Martapura, yang memperkenalkan inovasi PAIS PATIN atau Penanganan Terintegrasi Atasi Stunting melalui Pelayanan Anak Terpadu beserta Ibu dan Neonatus.


 Dalam paparannya, Ahmadi Murjani menjelaskan pentingnya optimalisasi data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) melalui penerapan Indeks FGT-S. Indeks ini memungkinkan analisis stunting tidak hanya berdasarkan angka prevalensi (S0), tetapi juga memperhitungkan kedalaman (S1) dan keparahan (S2), sehingga menghasilkan gambaran kondisi stunting yang lebih komprehensif.

 


Dijelaskannya melalui pengembangan dashboard penghitungan otomatis, data tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi balita sasaran, menentukan wilayah prioritas intervensi hingga tingkat desa dan puskesmas, serta membandingkan perubahan status gizi antarperiode.


“Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat ketepatan sasaran, pemantauan, dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.” Ujarnya.


Sementara itu, Taufik Rahmadi memaparkan inovasi PAIS PATIN yang dikembangkan RSUD Ratu Zalecha Martapura melalui Klinik Tumbuh Kembang Anak Terpadu. Inovasi ini menghadirkan pelayanan terintegrasi satu pintu bagi keluarga rawan stunting, meliputi ibu hamil, ibu menyusui, serta anak balita, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).


“Melalui pendekatan tersebut, masyarakat dapat memperoleh berbagai layanan dalam satu kali kunjungan ke rumah sakit, mulai dari pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan penunjang, pelayanan gizi, psikologi hingga layanan lain sesuai kebutuhan. Inovasi ini sekaligus menjadi upaya mengatasi keterbatasan akses masyarakat terhadap fasilitas dan edukasi kesehatan.” Papar Ia.

 


Lebih lanjut, Taufik mengungkapkan bahwa pelaksanaan PAIS PATIN menunjukkan perkembangan positif melalui kegiatan skrining, intervensi gizi, serta kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar dan puskesmas. Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi tahun 2024, intervensi gizi selama 12 minggu menunjukkan perbaikan status gizi sasaran, dengan rerata kenaikan berat badan sebesar 1,27 kilogram dan tinggi badan sebesar 3,48 sentimeter. Ke depan, inovasi ini terus diarahkan pada penguatan pelayanan rujukan terintegrasi serta pengembangan layanan kolaboratif berbasis telemedicine agar pendampingan dan pemantauan kasus stunting dapat dilakukan secara lebih luas dan berkesinambungan.


Menanggapi kedua paparan tersebut, Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bapperida Kabupaten Banjar, Nuri Ansari, menyoroti pentingnya mengintegrasikan pemanfaatan data dengan pengembangan inovasi pelayanan kesehatan. Optimalisasi E-PPGBM melalui Indeks FGT-S dan inovasi PAIS PATIN dinilai memiliki potensi untuk saling mendukung, terutama dalam menentukan sasaran prioritas sekaligus menghadirkan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat.

 


Memasuki sesi diskusi, sejumlah peserta turut memberikan dukungan dan masukan terhadap pengembangan inovasi yang dipaparkan. Pembahasan menekankan pentingnya keterpaduan antara pemanfaatan data stunting dan pelayanan kesehatan di lapangan, sehingga setiap intervensi dapat diarahkan sesuai kebutuhan sasaran. Sesi interaktif ini sekaligus menjadi ruang berbagi gagasan mengenai peluang penguatan kolaborasi antarinstansi dalam mendukung keberlanjutan inovasi penanganan stunting di Kabupaten Banjar.


Melalui kegiatan Bapperida Sapa Inovator (BSI), Bapperida Kabupaten Banjar terus berkomitmen menghadirkan ruang pembelajaran, pertukaran pengetahuan, dan diseminasi inovasi daerah yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Sinergi antara optimalisasi data E-PPGBM dan pengembangan inovasi PAIS PATIN diharapkan menjadi bagian dari penguatan kebijakan penanganan stunting yang lebih terukur, tepat sasaran, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung terwujudnya generasi Kabupaten Banjar yang lebih sehat dan berkualitas.(Ione/Brigade Bapperida)


Komentar