Tingkatkan Produktivitas Karet, Petani di Telaga Bauntung Dibekali Teknologi Pestisida Nabati
Dalam mendukung produktivitas dan keberlanjutan perkebunan karet, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar (Distan) melalui Bidang Perkebunan melaksanakan melaksanakan kegiatan sosialisasi pembuatan pestisida nabati pada tanaman perkebunan di BPP Telaga Bauntung, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan petani dalam upaya mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) hama dan penyakit secara aman tanpa merusak lingkungan.
Fokus utama sosialisasi ini mengupas teknik pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), khususnya penyelamatan tanaman karet dari ancaman penyakit kering alur sadap. Para petani dibekali pengetahuan praktis mengenai pemanfaatan hayati unggulan seperti Trichoderma untuk mengatasi jamur akar putih serta penggunaan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) guna menjaga kesehatan dan produktivitas kebun secara berkelanjutan.
Kegiatan hadiri Kepala Dinas Pertanian Banjar Warsita, Kepala Bidang Perkebunan Abdul Basyid beserta jajarannya, Koordinator Penyuluh serta PPL Telaga Bauntung, dan petani peserta sosialisasi.
Kepala Dinas Pertanian Banjar, Warsita dalam sambutannya menyampaikan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) masih menjadi tantangan utama di sektor perkebunan. Untuk menekannya, penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) perlu diperkuat agar petani tidak terus bergantung pada pestisida kimia. Pendekatan PHT berfokus pada pengamatan berkala, pencegahan, dan pengendalian tepat sasaran yang menyeimbangkan faktor ekonomi, kesehatan, serta kelestarian lingkungan.
Sebagai bagian dari PHT, pestisida nabati hadir sebagai alternatif potensial yang dapat diproduksi secara mandiri oleh pekebun. Pemanfaatan solusi berbasis bahan alam ini terbukti efektif selama ketersediaan bahan baku dan teknologinya sesuai dengan kondisi di lapangan.
Meski berbahan alami, label nabati tidak serta-merta menjamin kebebasan dari risiko. Proses pembuatan hingga pengaplikasiannya tetap menuntut ketelitian mulai dari pemilihan bahan, kebersihan, ketepatan dosis, sasaran hama, waktu aplikasi, hingga keselamatan kerja guna menghindari dampak negatif pada lingkungan dan hasil panen.
Sementara itu narasumber dari Balai Pengawasan Sertifikasi Benih dan Protektiksi Tanaman Pangan Perkebunan, Emma Romahyanti menjelaskan CPO sawit untuk karet kering alur sadap.
Untuk menangani dan mengobati tanaman karet yang mengalami kering alur sadap, minyak sawit (CPO) digunakan sebagai campuran. Minyak sawit berfungsi melekatkan bahan aktif pada kayu, menutupi luka dari paparan infeksi patogen luar, serta menjaga kelembapan jaringan kambium agar proses regenerasi kulit baru.
(Brigade Distan Syaripuddin)
