Karhutla di Banjar Terdampak 1.192 Hektare, Kejadian Mulai Menurun
MARTAPURA, InfoPublik - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar terus melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah. Hingga saat ini, luas lahan terdampak karhutla sejak penetapan status siaga darurat bencana kabupaten mencapai 1.192 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Wasis Nugraha mengatakan, angka tersebut berdasarkan data yang dihimpun pihaknya sejak status siaga darurat bencana ditetapkan.
“Sejak kita menetapkan status siaga darurat bencana kabupaten, total jumlah lahan yang terdampak adalah 1.192 hektare. Itu sesuai dengan data yang kami miliki,” ujar Wasis.
Menurutnya, proses pemadaman di sejumlah lokasi menghadapi tantangan tersendiri. Kondisi vegetasi yang didominasi semak, tanaman galam, serta pepohonan dengan ukuran cukup tinggi membuat petugas dan relawan harus bekerja lebih ekstra dalam menjangkau titik api.
“Sejauh bisa dijangkau selang, kita tetap upayakan pemadaman, seperti yang terjadi di sini, katanya usai mendampingi Bupati Banjar melakukan pantauan di Pematang Panjang Kecamatan Sungai Tabuk.
Wasis menjelaskan, tantangan semakin besar karena sebagian lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut. Karakteristik gambut yang menyimpan bara di dalam tanah membuat api berpotensi kembali muncul meski permukaan telah berhasil dipadamkan.
“Kita tahu sendiri lahan gambut itu kita padamkan sekarang, bisa jadi besoknya nyala lagi, karena mungkin airnya kurang meresap ke dalam. Tapi itu tantangan kita. Begitu kejadian, kita upayakan pemadaman secara maksimal,” ujarnya.
Sementara itu, kondisi udara di Kabupaten Banjar dalam beberapa hari terakhir menunjukkan perbaikan. Wasis Nugraha menyebut, kondisi udara saat ini berada pada kategori sedang, setelah sebelumnya sempat diselimuti kabut asap cukup pekat.

“Secara umum kalau untuk Kabupaten Banjar dalam tiga hari terakhir statusnya sedang. Kondisi udaranya sedang,” ujar Wasis.
Menurutnya, kondisi tersebut membaik dibandingkan empat hingga lima hari sebelumnya. Saat itu, kabut asap masih cukup pekat, terutama pada pagi hari, sehingga jarak pandang masyarakat ikut terganggu.
“Empat, lima hari yang lalu kan pekat, di pagi hari itu pekat. Tapi sejak hari kemarin kita sudah lumayan, bahkan tadi pagi buka jendela jam enam pagi cerah,” katanya.
Selain kondisi udara, Wasis menyebut tren kejadian karhutla dalam beberapa hari terakhir juga mengalami penurunan. Data tersebut dihitung secara kumulatif sejak Pemerintah Kabupaten Banjar menetapkan status siaga darurat bencana pada 15 Juli 2026.
“Kalau kita menghitung jumlah terbakar itu sejak ditetapkan status siaga darurat, kurang lebih 50 hari yang lalu, karena mulainya tanggal 15 Juli. Jadi secara kumulatif perhitungannya,” jelasnya.

Ia menambahkan, berdasarkan tren terakhir, jumlah kejadian karhutla per hari mulai menurun. Jika sebelumnya tercatat hingga delapan sampai 10 kejadian dalam sehari, kini jumlahnya turun menjadi sekitar empat kejadian.
“Dalam satu hari ada sampai delapan, sepuluh kejadian, hari ini tadi ada empat kejadian. Turun dan bisa dikendalikan,” pungkas Wasis. (Media Center Banjar)
