Inovator SKPD Banjar Dapat Pendampingan LAN RI
MARTAPURA - Sebanyak 64 inovasi daerah di Kabupaten Banjar memasuki tahapan Diagnose dan Design melalui kegiatan Coaching Clinic yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Banjar bersama Tim Monitoring Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI. Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memastikan setiap inovasi yang dikembangkan perangkat daerah memiliki arah yang jelas, tepat sasaran, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Coaching Clinic berlangsung selama dua hari, mulai 29 hingga 30 Juni 2026, dengan metode desk sesuai jadwal masing-masing inovator dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Melalui pola pendampingan secara langsung tersebut, setiap inovator mendapatkan kesempatan mempresentasikan perkembangan inovasi sekaligus memperoleh masukan dari tim pendamping.

Dalam proses pengembangan inovasi, tahap Diagnose merupakan tahapan untuk mengidentifikasi persoalan, kebutuhan, tantangan, hingga akar permasalahan yang dihadapi pada layanan maupun tata kelola pemerintahan. Tahapan ini menjadi fondasi penting agar inovasi yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Setelah permasalahan terpetakan, inovator memasuki tahap Design atau perancangan solusi. Pada fase ini, para inovator menyusun konsep inovasi secara lebih matang, mulai dari tujuan, sasaran, mekanisme pelaksanaan, hingga dampak yang diharapkan dapat dirasakan oleh masyarakat maupun organisasi perangkat daerah.
Tim Monitoring LAN RI yang terdiri dari Hesty dan Ayu memberikan pendampingan sekaligus evaluasi terhadap setiap inovasi yang diajukan. Berbagai aspek menjadi perhatian, di antaranya relevansi inovasi, tingkat kebermanfaatan, peluang keberlanjutan program, serta potensi pengembangannya di masa mendatang.

Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah (RIDA) Bapperida Kabupaten Banjar, Nuri Ansyari mengatakan bahwa tahapan Diagnose dan Design merupakan fase krusial dalam siklus pengembangan inovasi daerah. Menurutnya, kualitas inovasi tidak hanya ditentukan oleh ide yang menarik, tetapi juga oleh kemampuan inovator dalam memahami persoalan dan merancang solusi yang tepat serta dapat diimplementasikan.
Ia juga berharap seluruh inovator dapat memanfaatkan momentum coaching clinic ini untuk menyempurnakan inovasi yang dimiliki, memperkuat dampak yang akan dihasilkan, serta meningkatkan daya saing inovasi daerah Kabupaten Banjar di tingkat regional maupun nasional. Dengan pendampingan dari LAN RI, diharapkan inovasi yang lahir tidak hanya berhenti pada gagasan, tetapi mampu diwujudkan menjadi solusi nyata bagi peningkatan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.(Ione/Brigade Bapperida)
