Rembuk Stunting Desa Muara Halayung Usulkan Polindes, Air Bersih, dan Jamban Sehat untuk RKPD 2027

Pemerintah Desa Muara Halayung menggelar kegiatan Rembuk Stunting Tahun 2026 di halaman Balai Desa Muara Halayung, Kecamatan Beruntung Baru, Kamis (25/6/2026). Kegiatan ini menjadi forum musyawarah antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, pendamping desa, dan masyarakat dalam merumuskan program prioritas percepatan penurunan stunting yang akan diusulkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Tim Kecamatan Beruntung Baru, Pendamping Desa (PD), Pendamping Lokal Desa (PLD), Bhabinkamtibmas, Babinsa, perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kader Posyandu, tokoh masyarakat, serta unsur terkait lainnya.

Dalam forum tersebut, Bidan Desa Muara Halayung mengusulkan pembangunan Pondok Bersalin Desa (Polindes) sebagai salah satu kebutuhan prioritas desa. Usulan tersebut disampaikan karena hingga saat ini Desa Muara Halayung belum memiliki fasilitas kesehatan yang memadai untuk mendukung pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, dan balita.

"Kami berharap pembangunan Polindes dapat menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan mendatang karena Desa Muara Halayung sampai saat ini belum memiliki fasilitas tersebut. Kehadiran Polindes akan sangat membantu meningkatkan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu bersalin, dan balita," ujar Bidan Desa.

Selain pembangunan Polindes, Pemerintah Desa bersama masyarakat juga mengajukan permohonan penyediaan sarana air bersih yang dinilai menjadi kebutuhan mendasar masyarakat. Di samping itu, pemerintah desa turut mengusulkan pembangunan jamban sehat, mengingat masih banyak warga yang menggunakan jamban sungai sehingga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan lingkungan.

"Ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Kami berharap usulan ini dapat menjadi perhatian bersama karena sangat berpengaruh terhadap kesehatan keluarga dan pencegahan stunting," ungkap perwakilan Pemerintah Desa.

Sementara itu, Tim Penggerak PKK Desa Muara Halayung mengajukan program Dapur Bersih sebagai salah satu upaya mendukung pemenuhan gizi keluarga dan peningkatan kualitas konsumsi pangan rumah tangga. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa nilai konvergensi stunting Desa Muara Halayung mencapai 79,49 persen.

Pada sesi pemaparan materi, Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Beruntung Baru, Khairil Anwar, menjelaskan bahwa stunting merupakan persoalan multidimensi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari asupan gizi yang tidak mencukupi, pola asuh yang kurang optimal, kondisi kesehatan ibu dan anak, hingga sanitasi lingkungan yang belum memadai.

"Stunting bukan hanya persoalan kurang makan, tetapi berkaitan dengan banyak faktor seperti pola asuh, kesehatan ibu dan anak, serta kondisi lingkungan. Karena itu penanganannya harus dilakukan secara terpadu dan melibatkan seluruh pihak," jelas Khairil Anwar.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA) yang menyoroti pentingnya kesiapan calon pengantin sebelum memasuki jenjang pernikahan. Menurutnya, pernikahan usia dini atau nikah muda juga dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya stunting karena pasangan sering kali belum siap secara fisik, mental, maupun ekonomi dalam membangun keluarga dan mengasuh anak.

"Pencegahan stunting tidak hanya dilakukan ketika anak sudah lahir, tetapi harus dimulai sejak remaja dan calon pengantin. Pernikahan usia dini atau nikah muda dapat menjadi salah satu faktor risiko stunting karena pasangan sering kali belum siap dari sisi kesehatan, psikologis, maupun ekonomi dalam membangun keluarga dan mengasuh anak," ujar perwakilan KUA.

Ia menambahkan bahwa melalui bimbingan perkawinan dan edukasi kepada calon pengantin, KUA terus mendorong pentingnya perencanaan keluarga, kesiapan usia menikah, serta pemenuhan kesehatan dan gizi sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Selanjutnya, Ahli Gizi UPTD Puskesmas Beruntung Baru, Mutia, memaparkan hasil evaluasi capaian intervensi spesifik percepatan penurunan stunting di wilayah kerja Puskesmas Beruntung Baru. Berdasarkan data yang dipaparkan, Desa Muara Halayung memiliki sasaran sebanyak 60 balita. Pada bulan Mei 2026, sebanyak 54 balita telah mengikuti pengukuran dan penimbangan di Posyandu. Dari hasil tersebut tercatat sebanyak 7 balita mengalami stunting atau sebesar 12,96 persen dari jumlah balita yang diukur.

Mutia menjelaskan bahwa berbagai intervensi spesifik telah dilakukan oleh Puskesmas Beruntung Baru, di antaranya pemantauan pertumbuhan balita, promosi ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan bagi sasaran berisiko, serta pendampingan kepada ibu hamil dan keluarga yang memiliki balita. Namun demikian, masih terdapat sejumlah kendala dalam pelaksanaannya, seperti keterbatasan dana pemberian makanan tambahan (PMT), kondisi ekonomi keluarga, keterampilan kader yang belum merata, serta koordinasi lintas sektor yang perlu terus diperkuat.

"Berdasarkan hasil pemantauan bulan Mei 2026, Desa Muara Halayung memiliki 60 sasaran balita dan sebanyak 54 balita telah dilakukan pengukuran serta penimbangan. Dari hasil tersebut terdapat 7 balita stunting atau sekitar 12,96 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan penanganan stunting harus terus diperkuat melalui kerja sama semua pihak, baik pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader Posyandu, maupun masyarakat," ujar Mutia.

Dalam kesempatan yang sama, Pendamping Lokal Desa (PLD) Arbain menekankan pentingnya penguatan ketahanan pangan desa sebagai bagian dari strategi pencegahan stunting. Menurutnya, pemerintah desa dapat memanfaatkan potensi lokal melalui budidaya ikan dan peternakan bebek petelur untuk mendukung ketersediaan pangan bergizi bagi kegiatan Posyandu.

"Pemerintah desa perlu memikirkan langkah berkelanjutan dalam mendukung ketersediaan pangan bergizi. Salah satunya melalui pemeliharaan ikan dan bebek petelur yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan gizi balita dan ibu hamil pada kegiatan Posyandu. Ketahanan pangan desa harus menjadi bagian dari upaya pencegahan stunting," kata Arbain.

Kegiatan rembuk stunting ditutup dengan penyampaian berbagai usulan prioritas yang akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan RKPD Tahun 2027. Melalui sinergi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, lembaga keagamaan, pendamping desa, dan masyarakat, diharapkan berbagai program yang diusulkan dapat mendukung percepatan penurunan stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Desa Muara Halayung.
(IP.Kab.Banjar/Brigade Informasi RA)


Komentar