Melalui Bubur Asyura, Guru SMPN 1 Martapura Tanamkan Nilai Kebersamaan dan Gotong Royong

MARTAPURA, InfoPublik – Semangat kebersamaan dan gotong royong mewarnai lingkungan SMP Negeri 1 Martapura pada Kamis (25/6/2026) bertepatan dengan 10 Muharram 1448 Hijriah. Para guru bersama-sama menyiapkan dan memasak Bubur Asyura sebagai bentuk pelestarian tradisi masyarakat Banjar yang sarat nilai budaya dan keislaman.

Sejak pagi, para guru bergotong royong menyiapkan berbagai bahan masakan. Mulai dari mengiris bumbu, membersihkan sayuran, hingga menyiapkan perlengkapan memasak dilakukan secara bersama-sama dalam suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan.

Bubur Asyura merupakan hidangan khas yang identik dengan peringatan 10 Muharram. Beragam bahan yang digunakan, seperti sayuran, kacang-kacangan, umbi-umbian, jagung, santan, dan rempah-rempah, dimasak menjadi satu kesatuan yang memiliki makna filosofis tentang persatuan dalam keberagaman.

Nilai tersebut selaras dengan kehidupan di lingkungan sekolah. Perbedaan karakter, kemampuan, dan latar belakang warga sekolah dipersatukan oleh tujuan yang sama, yakni menciptakan lingkungan pendidikan yang harmonis, berkarakter, dan berprestasi.

Kepala SMP Negeri 1 Martapura, Yatim Dwi Margono, M.Pd., mengatakan bahwa tradisi Bubur Asyura tidak hanya menjadi kegiatan memasak bersama, tetapi juga sarana menanamkan pendidikan karakter kepada seluruh warga sekolah. “Bubur Asyura mengajarkan nilai kebersamaan, gotong royong, kesabaran, rasa syukur, dan kepedulian untuk berbagi. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan pendidikan karakter yang terus kami tanamkan di sekolah,” ujarnya.

Menurutnya, proses memasak yang dilakukan secara bersama-sama menjadi simbol pentingnya kerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Hal tersebut sejalan dengan dunia pendidikan yang memerlukan sinergi antara guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia dan berprestasi.

Tradisi Bubur Asyura yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di SMP Negeri 1 Martapura menjadi salah satu bentuk pelestarian kearifan lokal Banjar. Melalui kegiatan ini, sekolah tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat ukhuwah, menumbuhkan kepedulian, serta menanamkan nilai-nilai luhur yang diharapkan terus hidup dalam kehidupan peserta didik.


Komentar