PLN Salurkan Bantuan Rp284,64 Juta untuk Desa Biih melalui Program BERDIKARI
Program Pemberdayaan Desa Inklusi Mandiri (BERDIKARI) resmi dilaksanakan melalui penyaluran bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) kepada Desa Biih, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, di Sentra Budi Luhur Banjarbaru, Rabu (17/6/2026) pagi.
Kegiatan ini dihadiri oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Banjar yang mewakili Bupati Banjar, Pimpinan PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Transmisi Banjarbaru, Kepala Sentra Budi Luhur Banjarbaru Radna Dwi Sartika, Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan, Ketua Aisyiyah Muhammadiyah Kabupaten Banjar, Kepala Dinas Sosial P3AP2KB Kabupaten Banjar, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Banjar, Camat Beruntung Baru Wahidin Noor, perwakilan Kecamatan Karang Intan, perwakilan Kecamatan Astambul, serta jajaran Srikandi PLN.
PT PLN (Persero) melalui Program TJSL menyalurkan bantuan senilai Rp284.640.000 kepada Desa Biih. Bantuan tersebut dialokasikan untuk pembangunan fasilitas umum ramah disabilitas, pelatihan peningkatan kapasitas kaum difabel, bantuan modal usaha bagi penyandang disabilitas, serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung lainnya.
Camat Beruntung Baru, Wahidin Noor, yang hadir didampingi Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Beruntung Baru, Norhadie, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat dan penguatan desa inklusi.
“Program ini merupakan langkah nyata dalam mendorong kemandirian masyarakat, khususnya penyandang disabilitas, agar memiliki kesempatan yang sama dalam meningkatkan kapasitas, keterampilan, dan kesejahteraan. Semoga Desa Biih dapat menjadi contoh bagi desa lainnya dalam mewujudkan desa yang inklusif dan mandiri,” ujarnya.
Kepala Sentra Budi Luhur Banjarbaru, Radna Dwi Sartika, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan desa inklusi memerlukan kolaborasi berbagai pihak.
“Pembangunan desa inklusif membutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Program BERDIKARI menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi tersebut mampu menghadirkan manfaat yang langsung dirasakan masyarakat,” katanya.
Selain penyaluran bantuan, kegiatan juga diisi dengan penyampaian materi oleh Soharto, Dosen UIN Bandung, dan Samsudin, Dosen Universitas Gadjah Mada. Keduanya memberikan pemahaman mengenai penguatan desa inklusif, pemberdayaan masyarakat, serta strategi pembangunan desa berbasis partisipasi dan kemandirian.
Menurut Soharto, desa inklusi harus mampu memberikan akses dan kesempatan yang setara bagi seluruh warga masyarakat.
“Pemberdayaan yang berkelanjutan akan menciptakan kemandirian sosial dan ekonomi. Karena itu, seluruh unsur masyarakat perlu dilibatkan agar pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi semua,” jelasnya.
Sementara itu, Samsudin menekankan pentingnya memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam proses pembangunan.
“Ketika penyandang disabilitas diberikan akses, pelatihan, dan kesempatan untuk berusaha, mereka akan menjadi bagian penting dalam pembangunan dan penguatan ekonomi desa. Program BERDIKARI merupakan contoh praktik baik yang patut dikembangkan secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Melalui Program BERDIKARI, Desa Biih diharapkan mampu menjadi desa percontohan yang inklusif, mandiri, dan berdaya saing, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemberdayaan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
IP.Kab.Banjar/Brigade Informasi RA
