Tak Gentar di Pelosok : Siswa SMPN 1 Telaga Bauntung Taklukkan Soal Matematika HOTS Berbasis Etnomatematika Budaya Banjar

TELAGA BAUNTUNG, InfoPublik – Semangat menghadirkan pendidikan berkualitas terus ditunjukkan SMPN 1 Telaga Bauntung, Kabupaten Banjar. Meski berada di wilayah pelosok dengan berbagai keterbatasan geografis, sekolah tersebut tetap menerapkan Asesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT) Matematika berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang dipadukan dengan pendekatan Etnomatematika Budaya Banjar, Jumat (5/6/2026).

Pelaksanaan asesmen diikuti seluruh siswa kelas 7 dan 8 dengan sistem hybrid. Para peserta hadir secara luring di ruang kelas masing-masing, sementara pengerjaan soal dilakukan secara digital melalui Google Form menggunakan gawai pribadi maupun laptop yang disediakan sekolah.

Penerapan soal HOTS menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam menjaga kualitas pembelajaran dan penilaian. Melalui soal-soal yang menuntut kemampuan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah, siswa didorong untuk mengembangkan kompetensi yang selaras dengan tuntutan pendidikan abad ke-21.

Menariknya, soal yang diberikan tidak hanya menguji kemampuan numerasi, tetapi juga mengangkat berbagai konteks budaya masyarakat Banjar melalui pendekatan Etnomatematika. Dengan demikian, siswa dapat memahami konsep matematika melalui situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan lingkungan budayanya.

Pendekatan tersebut dinilai efektif dalam memperkuat literasi dan numerasi peserta didik. Siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi juga dilatih menghubungkan konsep matematika dengan persoalan nyata secara logis, sistematis, dan kontekstual.

Kepala SMPN 1 Telaga Bauntung, Sugeng Riyanto, S.Pd., menyampaikan bahwa sekolahnya berkomitmen memberikan pengalaman belajar yang berkualitas tanpa terhalang kondisi geografis. “Walaupun kami berada di pelosok, dalam hal asesmen matematika kami tetap menggunakan soal berbasis HOTS dan mengangkat budaya masyarakat Banjar melalui soal-soal Etnomatematika. Kami ingin membuktikan bahwa keterbatasan tempat bukan berarti keterbatasan berpikir,” ujarnya.

Menurut Sugeng, perpaduan antara HOTS dan Etnomatematika menjadi strategi untuk membentuk peserta didik yang kritis, kompetitif, serta tetap memiliki kedekatan dengan nilai-nilai budaya lokal. Melalui inovasi ini, SMPN 1 Telaga Bauntung berharap mampu melahirkan generasi yang unggul dalam literasi dan numerasi tanpa kehilangan identitas budaya daerahnya.


Komentar