Mahasiswa STIKES Intan Dibekali Mitigasi Risiko Bencana, BPBD Banjar Tekankan Pentingnya Kesiapsiagaan

Martapura, InfoPublik – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar terus memperkuat upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana melalui kolaborasi dengan dunia pendidikan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memberikan kuliah umum mengenai mitigasi risiko dan kesiapsiagaan bencana kepada mahasiswa STIKES Intan Martapura.

Dalam materi yang disampaikan, BPBD Kabupaten Banjar menekankan pentingnya pemahaman mengenai ancaman, kerentanan, kapasitas, dan risiko bencana sebagai dasar membangun masyarakat yang tangguh menghadapi berbagai potensi bencana, khususnya banjir yang masih menjadi ancaman utama di wilayah Kabupaten Banjar.

Berdasarkan paparan BPBD, Kabupaten Banjar memiliki karakteristik geografis berupa dataran rendah, aliran sungai aktif, serta kawasan lahan gambut yang luas. Kondisi tersebut menyebabkan wilayah ini memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap banjir luapan sungai, banjir kiriman dari kawasan hulu Pegunungan Meratus, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau.

Selain faktor geografis, kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan masyarakat yang tinggal di bantaran sungai menjadi perhatian khusus dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Materi juga menjelaskan bahwa risiko bencana dipengaruhi oleh besarnya ancaman dan tingkat kerentanan masyarakat. Risiko tersebut dapat ditekan melalui peningkatan kapasitas, baik melalui pembangunan infrastruktur pengendali banjir maupun peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat.

BPBD Kabupaten Banjar memaparkan dua pendekatan utama dalam mitigasi bencana, yaitu mitigasi struktural dan non-struktural. Mitigasi struktural dilakukan melalui pembangunan fisik seperti tanggul, normalisasi sungai, serta peningkatan sistem drainase. Sementara mitigasi non-struktural dilakukan melalui penyusunan peta rawan bencana, pengendalian tata ruang, edukasi kebencanaan, dan peningkatan kapasitas masyarakat.

Dalam upaya membangun ketangguhan komunitas, BPBD menekankan tiga pilar utama pengurangan risiko banjir, yakni edukasi publik, penyusunan jalur evakuasi, dan penguatan sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS). Melalui ketiga pilar tersebut, masyarakat diharapkan mampu melakukan tindakan cepat dan tepat ketika ancaman bencana mulai muncul.

Selain kesiapsiagaan tingkat komunitas, BPBD juga mengajak masyarakat untuk membangun kesiapsiagaan di tingkat keluarga. Setiap keluarga dianjurkan memiliki Tas Siaga Bencana yang berisi dokumen penting, perlengkapan P3K, logistik darurat, serta alat penerangan. Masyarakat juga didorong memahami jalur evakuasi dan titik kumpul aman di lingkungan masing-masing.

Pada kesempatan tersebut, mahasiswa STIKES Intan Martapura juga diberikan pemahaman mengenai peran tenaga kesehatan dalam setiap fase penanggulangan bencana, mulai dari mitigasi, tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana.

Mahasiswa kesehatan memiliki peran penting dalam memberikan pertolongan pertama, membantu manajemen posko kesehatan, melaksanakan promosi kesehatan di lokasi pengungsian, hingga melakukan surveilans penyakit pascabencana dan pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha, menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi seluruh unsur, termasuk perguruan tinggi.

"Kolaborasi antara BPBD dan institusi pendidikan merupakan langkah strategis dalam membangun budaya sadar bencana. Kami berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori kebencanaan, tetapi juga mampu terlibat langsung dalam kegiatan mitigasi, edukasi masyarakat, serta penanganan darurat ketika bencana terjadi. Semakin banyak masyarakat yang memahami risiko dan kesiapsiagaan, maka semakin kuat pula ketahanan daerah kita terhadap bencana," ujarnya.

Ia menambahkan, mahasiswa merupakan agen perubahan yang memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Melalui kolaborasi antara BPBD dan perguruan tinggi, diharapkan lahir generasi muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap upaya pengurangan risiko bencana serta mampu menjadi pelopor budaya sadar bencana di lingkungan masing-masing.

Ke depan, BPBD Kabupaten Banjar dan STIKES Intan Martapura berencana memperkuat kerja sama melalui program KKN Tematik Kebencanaan, pendampingan Desa Tangguh Bencana (DESTANA), serta pelatihan dan sertifikasi kebencanaan guna mendukung terwujudnya masyarakat Kabupaten Banjar yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi bencana.NH


Komentar