Dinkes Banjar Gelar Monitoring dan Evaluasi SKDR 2026, Perkuat Ketepatan Pelaporan

MARTAPURA, InfoPublik – Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar menggelar pertemuan Monitoring dan Evaluasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Tahun 2026 di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Senin (20/4/2026).


Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas pelaporan kewaspadaan dini penyakit dari seluruh unit pelapor.


Pertemuan tersebut dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Hj. Mariana, serta menghadirkan H. Nor Efendi, sebagai narasumber.


Mariana menyampaikan apresiasi kepada seluruh puskesmas yang telah berkomitmen melakukan pelaporan SKDR secara rutin setiap minggu. Namun demikian, ia menekankan pentingnya ketepatan waktu dalam penginputan data.


“Pengumpulan laporan SKDR setiap hari Selasa harus tepat waktu. Tidak boleh ada lagi puskesmas yang terlambat atau tidak melakukan input. Jika masih terjadi, akan dilakukan bimbingan teknis bersama Dinas Kesehatan Provinsi,” tegasnya.


Kegiatan ini juga diisi dengan pemaparan materi terkait monitoring dan evaluasi sistem SKDR Kabupaten Banjar serta optimalisasi pelaporan kepada seluruh peserta. Materi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dan pemahaman petugas dalam mengelola sistem pelaporan secara akurat dan responsif.


Salah satu peserta mengaku kegiatan ini memberikan manfaat langsung dalam peningkatan kompetensi. “Pertemuan ini menambah ilmu baru terkait penginputan Event Based Surveillance (EBS) di menu SKDR,” ujarnya.


Dalam pertemuan tersebut, disepakati sejumlah langkah tindak lanjut. Dari pihak Dinas Kesehatan, antara lain meningkatkan koordinasi dengan unit pelapor, membagikan buletin mingguan, serta melaksanakan on the job training (OJT) ke puskesmas. Sementara itu, unit pelapor berkomitmen untuk meningkatkan ketepatan waktu pelaporan hingga batas akhir Selasa pukul 23.59 WITA, meningkatkan kelengkapan data, respons cepat terhadap alert kurang dari 24 jam, serta memperkuat pelaporan melalui EBS.


Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar berharap kegiatan ini dapat mendorong optimalisasi sistem SKDR sehingga potensi kejadian luar biasa (KLB) dapat terdeteksi dan ditangani lebih cepat.


Mariana menegaskan bahwa SKDR merupakan instrumen penting dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular yang berpotensi menimbulkan KLB. Ia juga mengajak seluruh unit pelapor untuk terus meningkatkan kedisiplinan dan kesadaran dalam melakukan pelaporan secara cepat, tepat, dan akurat.


Komentar