Kosabangsa 2026 Hadirkan Teknologi Pengering Ikan Bertenaga Surya, Dorong UMKM dan Pencegahan Stunting di Sungai Batang
Potensi
ikan sepat di Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar,
Kalimantan Selatan, terus didorong agar memberikan nilai tambah bagi
perekonomian masyarakat. Melalui program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat
atau Kosabangsa 2026, inovasi teknologi pengering ikan berbasis tenaga surya
diperkenalkan untuk meningkatkan produktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah
(UMKM).
Tidak
hanya berfokus pada pengembangan usaha perikanan, program ini juga menyasar
penguatan ketahanan pangan keluarga dan upaya pencegahan stunting melalui
pemberdayaan masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK.
Komitmen
tersebut kembali diperkuat melalui kegiatan sosialisasi Kosabangsa yang
dilaksanakan pada Selasa, 27 Oktober 2026, di Desa Sungai Batang.
Kegiatan
ini dihadiri tim pendamping dari Universitas Muhammadiyah Malang yang dipimpin
Dr. Ir. Ristika Handarini, M.P., tim pelaksana Universitas Sari Mulia
Banjarmasin yang diketuai Indra Saputra, S.E., M.Si., serta Sekretaris Camat
Martapura Barat, Imam Sofyar, S.E.
Kehadiran
tim perguruan tinggi dan pemerintah kecamatan menjadi bagian dari kolaborasi
untuk memastikan program dapat berjalan sesuai tujuan, memberikan manfaat
nyata, serta mendorong keberlanjutan pemberdayaan masyarakat Desa Sungai Batang
Ketua
Pelaksana Kosabangsa dari Universitas Sari Mulia Banjarmasin, Indra Saputra,
menjelaskan bahwa Desa Sungai Batang memiliki potensi besar dalam pengolahan
ikan sepat kering dan ikan asin. Namun, selama ini proses pengeringan masih
sangat bergantung pada panas matahari sehingga produksi kerap terkendala ketika
cuaca tidak mendukung, terutama pada musim hujan.
Melalui
program Kosabangsa 2026, tim pelaksana menghadirkan empat unit alat pengering
ikan berbasis tenaga surya dengan dukungan panel surya
Teknologi
ini diharapkan membantu pelaku UMKM mempercepat proses pengeringan, menjaga
kesinambungan produksi, serta meningkatkan kapasitas pengolahan ikan tanpa
terlalu bergantung pada kondisi cuaca.
Tidak
berhenti pada penerapan teknologi, program ini juga mendorong pengembangan
produk olahan ikan sepat agar memiliki nilai jual lebih tinggi.
Masyarakat
mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan berbagai produk inovatif, seperti
ikan balado dan kukis berbahan dasar ikan. Selain itu, peningkatan kualitas
kemasan, pelabelan, serta pemasaran digital melalui marketplace menjadi bagian
dari strategi memperluas jangkauan pasar.
Dengan
inovasi tersebut, ikan sepat yang selama ini menjadi salah satu produk unggulan
Desa Sungai Batang diharapkan mampu berkembang menjadi produk olahan yang lebih
kompetitif dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Selain
pengembangan UMKM perikanan, Kosabangsa 2026 juga menghadirkan program
pemberdayaan ibu-ibu PKK melalui budidaya burung puyuh dan penanaman sayuran
secara hidroponik.
Dalam kegiatan ini, tim menyediakan empat kandang burung puyuh beserta 200 ekor
burung puyuh, serta empat set instalasi hidroponik sebagai sarana percontohan
bagi masyarakat.
Program tersebut diharapkan membuka peluang bagi keluarga untuk menghasilkan
sumber pangan bergizi secara mandiri sekaligus mengembangkan usaha tambahan.
Telur
puyuh dapat menjadi salah satu sumber protein hewani, sedangkan sayuran
hidroponik berpotensi membantu memenuhi kebutuhan sayuran keluarga.
Jika dikelola secara berkelanjutan, kegiatan ini bukan hanya mendukung
ketahanan pangan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Melalui
keterlibatan ibu-ibu PKK dan kader terkait, program ini diharapkan memperkuat
kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang, terutama bagi
ibu hamil dan balita.
Upaya
tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap pencegahan stunting
melalui pemberdayaan masyarakat, peningkatan pengetahuan gizi, dan pemanfaatan
potensi pangan lokal
Pembakal
Desa Sungai Batang, Suladi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim
pelaksana Kosabangsa Universitas Sari Mulia Banjarmasin, tim pendamping
Universitas Muhammadiyah Malang, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains,
dan Teknologi yang telah memilih Desa Sungai Batang sebagai lokasi pelaksanaan
program pada 2026.
Dukungan tersebut diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk terus
berinovasi, mengembangkan usaha produktif, dan memperkuat ketahanan pangan
keluarga.
Pemerintah desa berharap fasilitas dan pendampingan yang diberikan tidak
berhenti sebagai bantuan semata, tetapi dapat dirawat, dimanfaatkan, serta
dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat
Melalui
kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, potensi lokal Desa
Sungai Batang diharapkan dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru.
Dari
pengolahan ikan sepat berbasis teknologi tenaga surya hingga budidaya pangan
bergizi di tingkat keluarga, Kosabangsa 2026 diharapkan mampu mendorong
kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus mendukung peningkatan kualitas gizi
keluarga secara berkelanjutan
