Gerakan Tanam Bawang Merah Untuk Penanggulangan Inflasi di Desa Alimukim Pengaron

Dinas Pertanian Kabupaten Banjar (Distan) melalui Bidang Sarana dan Prasarana Pertanian  menghadiri penanaman perdana bawang merah di Desa Alimukim Kecamatan Pengaron, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan dilahan kelompok tani Banyumas Karya Tani ini dalam rangka mendukung swasembada pangan tahun 2026.

Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Pertanian yang diwakilkan Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Gusti Rahmatullah, Kapolsek Kecamatan Pengaron, Danramil Wilayah Kecamatan Pengaron, Perwakilan dari Kecamatan Pengaron, Pembakal Desa Alimukim, Ketua KTNA Kabupaten Banjar, Tani Merdeka , seluruh snggota Kelompok Tani Banyu Mas  Karya Tani, Kelompok Tani Tunas Muda Berkarya Desa Alimukim, Kelompok Tani Bukit Porang Kecamatan Sungai Pinang dan Koordinator serta PPL Kecamatan Pengaron.

Gerakan tanam bawang merah ini merupakan salah satu bentuk sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, penyuluh pertanian dan kelompok tani dalam mendorong peningkatan produksi komoditas hortikultura di Kabupaten Banjar. Bawang merah merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang turut memengaruhi stabilitas harga dan inflasi daerah.

Dalam kegiatan tersebut juga dilaksanakan Penyerahan Bantuan Handsprayer Elektrik kepada kelompok tani, yaitu untuk dua kelompok tani di Desa Alimukim dan satu kelompok tani di Desa Hakim Makmur, Kecamatan Sungai Pinang. Bantuan tersebut diharapkan dapat menunjang kegiatan budidaya tanaman serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pemeliharaan tanaman di lapangan.

Selain gerakan tanam, kegiatan ini juga dirangkai dengan Syukuran atas bantuan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) yang diterima oleh Kelompok Tani Banyu Mas Karya Tani berupa Cultivator dan Traktor Roda Empat.

Bantuan Alsintan tersebut diharapkan dapat mendukung proses pengolahan lahan, mempercepat pekerjaan pertanian, mengurangi beban kerja petani serta meningkatkan efisiensi usaha tani. Keberadaan Alsintan juga menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah dalam mendorong kelompok tani agar mampu mengoptimalkan potensi lahan yang tersedia, termasuk dalam pengembangan komoditas bawang merah.

Kapolsek dan Danramil Pengaron menegaskan bahwa penyaluran Saprodi dan Alsintan di Desa Alimukin bukan sekadar penunjang pertanian untuk mengendalikan inflasi. Momentum ini menjadi wadah penguat sinergi antara pemerintah, aparat, penyuluh, dan warga dalam menjaga pasokan pangan strategis di Kecamatan Pengaron.

“Kalau kita mau berperang, tentu harus memiliki senjata. Begitu juga dengan petani. Kalau petani tidak memiliki sarana dan alat untuk bertani, tentu akan sulit untuk meningkatkan produksi. Karena itu, bantuan saprodi dan Alsintan ini merupakan salah satu ‘senjata’ bagi petani untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga ketahanan pangan,” ujarnya. 

Pembakal Desa Alimukim juga mengatakan bantuan yang sudah diterima oleh kelompok tani tentunya sangat membantu petani dalam melaksanakan kegiatan usaha tani. Ia berharap bantuan Alsintan maupun sarana pertanian lainnya dapat dimanfaatkan dan dirawat dengan baik, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh anggota kelompok tani dan masyarakat Desa Alimukim.

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Gusti Rahmatullah menjelesakan Kegiatan Tanam Bawang Merah Ini merupakan penanggulangan inflasi yang diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membantu masyarakat mengurangi pengeluaran rumah tangga. Bawang merah merupakan salah satu kebutuhan dapur yang cukup sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menanam dan menghasilkan bawang merah sendiri, masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pembelian dari pasar, sehingga sebagian kebutuhan rumah tangga dapat dipenuhi dari hasil pekarangan atau lahan pertanian yang dimiliki.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah memberikan dukungan dan motivasi melalui bantuan sarana produksi pertanian (saprodi) dan mekanisasi pertanian berupa Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan). Bantuan saprodi dapat mendukung kebutuhan awal budidaya, seperti benih dan sarana pendukung lainnya, sedangkan bantuan Alsintan membantu petani dalam proses pengolahan lahan sehingga pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien.

Dengan pendekatan tersebut, gerakan tanam bawang merah tidak harus langsung mengejar target produksi dalam jumlah besar. Yang paling penting adalah membangun kebiasaan masyarakat untuk memproduksi sebagian kebutuhan pangannya sendiri.

Apabila gerakan ini dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan oleh semakin banyak rumah tangga dan kelompok tani, maka dampaknya akan semakin besar. Pengeluaran rumah tangga dapat ditekan, ketahanan pangan masyarakat meningkat, dan pada saat yang sama ketersediaan bawang merah di tingkat lokal dapat bertambah.

Selanjutnya, apabila hasil budidaya sudah mampu memenuhi kebutuhan sendiri dan terdapat kelebihan produksi, masyarakat dapat diarahkan untuk mengembangkan usaha tani secara bertahap menuju skala ekonomi yang lebih besar. Dengan demikian, Gerakan Tanam Bawang Merah dimulai dari kebutuhan pribadi, berkembang menjadi ketahanan pangan keluarga, kemudian meningkat menjadi ketahanan pangan masyarakat dan pada akhirnya dapat memberikan kontribusi terhadap pengendalian inflasi daerah.

Melalui dukungan saprodi, pendampingan penyuluh pertanian, serta pemanfaatan Alsintan secara berkelompok, pemerintah berupaya menciptakan kondisi agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mampu menjadi produsen pangan untuk memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri.
(Brigade Distan Hakim) 


Komentar