Lawan Serangan Tungro dan Kekeringan, Distan Banjar Andalkan Pertanian Modern PM-AAS

MARTAPURA, InfoPublik - Dinas Pertanian Kabupaten Banjar (Distan) melalui Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura menggelar pertemuan petugas (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) POPT PHP di Aula Distan, Kamis (6/8/2026).


Kegiatan dihadiri Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Nurul Chatimah berserta jajaran, Kepala BPTPH Provinsi Kalsel Lestari, dan Petugas POPT.

Dalam sambutannya Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, Nurul Chatimah mengungkapkan tantangan di lapangan kian kompleks akibat pola tanam petani setempat. Pada musim tanam pertama di bulan Oktober para petani menggunakan varietas unggul, terutama di kawasan Optimasi Lahan (Opla) yang berhasil dipanen bulan Januari. 

"Pada musim tanam kedua di bulan Februari, sebagian besar petani beralih menggunakan varietas lokal yang telah menjadi turun-temurun. Sayangnya, keputusan ini berisiko tinggi ketika diserang wabah virus tungro sebagian besar wilayah kecamatan Beruntung Baru," ungkap Nurul. 

Belum sempat pulih dari serangan tungro, tanaman lokal tersebut kembali dihantam oleh Dampak Perubahan Iklim (DPI) berupa kekeringan ekstrem seiring datangnya musim kemarau. Akibat hantaman ganda ini, luas lahan pertanian yang terdampak melonjak signifikan dari semula sekitar 100 hektar kini menjadi lebih dari 200 hektar.

Menindaklanjuti hasil rapat bersama Dewan, pihak dinas bergerak cepat menyiapkan langkah mitigasi dan usulan bantuan benih bagi petani terdampak kekeringan untuk periode Okmar (Oktober–Maret). "Usulan tersebut mencakup bantuan benih Opla, Program PM-AAS (Pertanian Modern Advanced Agriculture System) yang merupakan sistem budidaya padi intensif berbasis teknologi dari Kementerian Pertanian yang mengintegrasikan mekanisasi modern, teknologi presisi, dan pola tanam terarah. Tujuannya untuk mendongkrak produktivitas hasil panen, mengefisienkan biaya produksi, dan mensejahterakan petani," ujar Nurul. 

Pertemuan berlangsung dinamis saat para petugas POPT bergantian memaparkan hasil investigasi terbaru mereka dari berbagai wilayah. Beberapa ancaman yang mencuat dan memerlukan penanganan segera di antaranya adalah maraknya serangan virus tungro serta hama lainnya.
 
Situasi serangan hama dan tantangan iklim ini tentu menjadi alarm bagi semua pihak untuk bergerak cepat. Mengingat padi bukan sekadar komoditas pangan utama, melainkan urat nadi dan tulang punggung perekonomian bagi sebagian besar masyarakat di Kabupaten Banjar, menjaga kelestarian sawah sama artinya dengan mengamankan masa depan daerah.
(Brigade Distan Syaripuddin) 


Komentar