RSUD Ratu Zalecha Kembangkan Inovasi PAIS PATIN untuk Percepat Penanganan Stunting

MARTAPURA, InfoPublik - RSUD Ratu Zalecha Martapura terus memperkuat upaya percepatan penanganan stunting melalui inovasi PAIS PATIN (Pelayanan Anak Terpadu Beserta Ibu dan Neonatal). Inovasi yang mulai diterapkan sejak awal 2025 ini menghadirkan layanan kesehatan terintegrasi bagi anak, ibu hamil, dan bayi baru lahir guna mendukung pencegahan serta penanganan stunting secara komprehensif.

Hal tersebut disampaikan inovator PAIS PATIN, dr Taufik Rahmadi, yang juga Dokter Ahli Gizi RSUD Ratu Zalecha Martapura, saat menjadi narasumber dalam talkshow di Radio Suara Banjar, Rabu (29/7/2026) pagi.

Menurut Taufik, inovasi tersebut dilatarbelakangi tingginya angka stunting di Kabupaten Banjar sejak pemerintah pusat menjadikan penanganan stunting sebagai program prioritas nasional pada 2022. Saat itu, prevalensi stunting di Kabupaten Banjar mencapai sekitar 30 persen sehingga diperlukan pelayanan yang tidak hanya melibatkan dokter anak, tetapi juga berbagai disiplin ilmu, seperti kebidanan dan gizi.

“PAIS PATIN merupakan inovasi pelayanan kesehatan yang memfokuskan penanganan stunting secara terintegrasi melalui skrining, pelayanan terpadu dan sistem rujukan berjenjang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, layanan tersebut memiliki tiga fungsi utama, yakni melakukan skrining balita untuk mendeteksi anak yang berisiko mengalami stunting sejak dini, memberikan pelayanan kesehatan terpadu bagi anak, ibu, dan bayi baru lahir serta memastikan proses rujukan medis berjalan cepat, tepat dan terintegrasi di lingkungan rumah sakit.

Melalui inovasi ini, anak maupun ibu hamil yang datang ke RSUD Ratu Zalecha dapat memperoleh berbagai layanan dalam satu kali kunjungan. Pasien dapat berkonsultasi dengan dokter anak, dokter gizi serta tenaga kesehatan lainnya sehingga penanganan maupun upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara lebih efektif.

Sejak diluncurkan pada 2025, PAIS PATIN terus dikembangkan melalui kerja sama dengan puskesmas di Kabupaten Banjar. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memantau perkembangan anak yang dirujuk ke rumah sakit sekaligus mengevaluasi efektivitas intervensi gizi yang diberikan.

“Tahun ini layanan juga berkembang melalui pemanfaatan telemedicine menggunakan aplikasi KOMEN (Konsultasi Media Online) yang dikembangkan Kementerian Kesehatan RI, sehingga konsultasi dapat dilakukan secara lebih mudah,” jelasnya.


Taufik menilai, upaya bersama pemerintah daerah, puskesmas, dan RSUD Ratu Zalecha mulai menunjukkan hasil. Berdasarkan paparan terakhir Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, angka stunting telah turun dari sekitar 30 persen menjadi 23 persen.

Meski demikian, capaian tersebut masih berada di atas target nasional yang ditetapkan di bawah 14 persen. Karena itu, ia menekankan pentingnya sinergi seluruh pihak, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah daerah, hingga orang tua, untuk terus memantau tumbuh kembang anak, khususnya pada dua tahun pertama kehidupan.

Ia juga mengimbau para orang tua yang memiliki anak usia di bawah dua tahun agar memperhatikan asupan gizi, rutin membawa anak ke posyandu serta segera berkonsultasi ke puskesmas atau RSUD Ratu Zalecha apabila ditemukan kendala dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Ke depan, RSUD Ratu Zalecha berencana membuka kelas edukasi di sejumlah puskesmas di Kabupaten Banjar untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemenuhan gizi dan pencegahan stunting sejak dini. (Media Center Banjar)


Komentar