Perkuat Kolaborasi Cegah Stunting, DinsosP3AP2KB Banjar Lanjutkan Pembinaan GENTING di Kecamatan Aluh-Aluh
- DINAS SOSIAL, PEMBERDAYAAN PEREMPUAN, PERLINDUNGAN ANAK, PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,
- dinsosppkb
- 4
Kab. Banjar, Info Publik – Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinsosP3AP2KB) Kabupaten Banjar terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui pembinaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa (21/7/2026) di Balai Penyuluhan KB Kecamatan Aluh-Aluh ini merupakan pelaksanaan pembinaan GENTING yang ketiga, setelah sebelumnya dilaksanakan di Kecamatan Astambul dan Kecamatan Martapura Timur.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan DinsosP3AP2KB Kabupaten Banjar dalam memperluas pemahaman sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor agar pelaksanaan Program GENTING dapat berjalan optimal di seluruh wilayah Kabupaten Banjar. Program GENTING merupakan salah satu strategi percepatan penurunan stunting melalui pendekatan gotong royong dengan melibatkan pemerintah, pemerintah desa, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, lembaga sosial, serta masyarakat sebagai Orang Tua Asuh bagi keluarga yang memiliki anak berisiko stunting.
Pembinaan dihadiri oleh Kasi Bina Ketahanan dan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga beserta tim, Koordinator PKB Kecamatan Aluh-Aluh beserta jajaran, para Pembakal se-Kecamatan Aluh-Aluh, serta Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang terdiri dari bidan desa, kader KB, dan kader PKK. Kegiatan difasilitasi oleh Sukini dari Bidang Keluarga Berencana DinsosP3AP2KB Kabupaten Banjar.
Dalam paparannya, Sukini menjelaskan bahwa GENTING bukan sekadar program pemerintah, melainkan sebuah gerakan sosial yang mengedepankan semangat gotong royong. Menurutnya, keberhasilan pencegahan stunting sangat bergantung pada kepedulian dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
"GENTING adalah gerakan gotong royong. Pencegahan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama. Pemerintah desa memiliki peran yang sangat strategis untuk menggerakkan potensi yang ada di wilayahnya, membangun kemitraan dengan dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, maupun para dermawan agar dapat menjadi Orang Tua Asuh bagi keluarga yang membutuhkan. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula peluang kita melindungi anak-anak dari risiko stunting," ujar Sukini.
Ia juga mengajak seluruh pembakal agar mulai mengidentifikasi potensi yang ada di desa masing-masing, baik melalui perusahaan, pelaku usaha, organisasi sosial, maupun masyarakat yang mampu menjadi mitra dalam mendukung keluarga sasaran. Dengan demikian, bantuan yang diberikan tidak hanya bersifat sesaat, tetapi dapat berkelanjutan sesuai kebutuhan keluarga.
Senada dengan hal tersebut, Koordinator PKB Kecamatan Aluh-Aluh, Rahmada Devi, menyampaikan bahwa pembinaan ini menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi seluruh pelaksana di lapangan sehingga Program GENTING dapat berjalan lebih efektif.
"Pembinaan ini memberikan pemahaman yang sama kepada pemerintah desa, Tim Pendamping Keluarga, dan seluruh mitra mengenai mekanisme pelaksanaan GENTING. Kami berharap setiap desa dapat mulai memetakan keluarga sasaran, mengidentifikasi calon Orang Tua Asuh, serta memperkuat koordinasi agar program ini benar-benar memberikan manfaat bagi keluarga yang membutuhkan. Jajaran PKB Kecamatan Aluh-Aluh siap mendampingi pemerintah desa dalam mengimplementasikan GENTING hingga ke tingkat desa," tutur Rahmada Devi.
Selain penyampaian materi, kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan menjadi bahan pembahasan bersama untuk mencari solusi yang dapat diterapkan.
Salah seorang bidan desa menyampaikan bahwa proses pencatatan dan pelaporan data anak berisiko stunting masih menghadapi kendala administrasi. Menurutnya, masih terdapat anak yang lahir dari pernikahan siri sehingga belum memiliki dokumen administrasi kependudukan yang lengkap. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian anak belum dapat tercatat secara optimal dalam sistem pelaporan, meskipun mereka tetap membutuhkan pendampingan dan intervensi.
Menanggapi hal tersebut, fasilitator menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah desa, Tim Pendamping Keluarga, fasilitas kesehatan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, serta instansi terkait agar permasalahan administrasi dapat diselesaikan secara bertahap. Dengan demikian, seluruh anak yang berisiko stunting tetap dapat memperoleh layanan dan intervensi yang dibutuhkan tanpa ada yang terlewat.
Melalui rangkaian pembinaan yang telah dilaksanakan di Kecamatan Astambul, Martapura Timur, dan kini Aluh-Aluh, DinsosP3AP2KB Kabupaten Banjar berharap semakin banyak pemerintah desa yang mampu menggerakkan potensi di wilayahnya untuk mendukung Program GENTING. Sinergi antara pemerintah, pemerintah desa, tenaga pendamping, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat diharapkan mampu membangun budaya gotong royong dalam mendampingi keluarga sasaran. Dengan kolaborasi yang semakin kuat, upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Banjar diharapkan dapat berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan demi terwujudnya generasi Banjar yang sehat, berkualitas, dan bebas stunting.
Agusto/Adam/Dinsos P3AP2KB Kab.Banjar
