Kecamatan Beruntung Baru Hadiri Peringatan Hari TB Sedunia 2026
BANJARBARU, InfoPublik – Dalam rangka memperingati Hari
Tuberkulosis Sedunia Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Banjar menggelar
Pertemuan Koordinasi Lintas Sektor di Hotel Rodhita Banjarbaru, Kamis
16/4/2026.
Kegiatan yang dihadiri unsur dinas/instansi, camat, puskesmas, organisasi profesi, kader kesehatan, dan perwakilan kecamatan se-Kabupaten Banjar ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Banjar Habib Idrus Al Habsyi. Turut hadir Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Beruntung Baru, Khairil Anwar sebagai perwakilan lintas sektor tingkat Kabupaten Banjar, Wakil Bupati Banjar Habib Idrus Al Habsyi, beliau menegaskan bahwa peringatan Hari TB Sedunia bukan sekadar seremonial, melainkan momentum memperkuat aksi nyata di lapangan.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Banjar, saya mengapresiasi
seluruh lintas sektor yang hadir hari ini. Tema global _Yes! We Can End TB_
harus kita wujudkan di Banjar. TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan, tapi
butuh komitmen bersama,” ujarnya.
Habib Idrus menekankan tiga hal. Pertama, temukan kasus
sedini mungkin. Kedua, dampingi pasien sampai sembuh tuntas. Ketiga, hapus
stigma di masyarakat. “Jangan sampai ada warga yang malu berobat karena takut
dikucilkan. Tugas kita melindungi dan mengedukasi,” tegasnya.
Ia juga meminta camat, kades, dan kader menjadi garda
terdepan. “Laporkan jika ada warga bergejala batuk lebih dari 2 minggu. Jemput
bola. Pemkab Banjar siap mendukung lewat puskesmas dan program JKN. Target kita
jelas, Kabupaten Banjar bebas TBC,” tutup Habib Idrus.
Dalam paparannya, Hj. Mariana, dari Dinas Kesehatan
Kabupaten Banjar menyampaikan potret penanggulangan TBC di Kabupaten Banjar
Tahun 2026.
“Berdasarkan data, capaian penemuan kasus TBC di Kabupaten
Banjar terus membaik, namun tantangan masih ada. Masih ditemukan kasus putus
berobat dan stigma di masyarakat,” jelas Mariana.
Ia memaparkan strategi _TOSS TBC_ — Temukan, Obati Sampai
Sembuh — yang dijalankan Dinkes Banjar. Peran kecamatan dan desa menjadi kunci.
“Kami dorong Kasi Kesos, TKSK, dan kader untuk aktif lapor jika ada warga
bergejala. Puskesmas siap melakukan skrining dan pemeriksaan dahak gratis,”
ujarnya.
Mariana juga menyoroti pentingnya PMO atau Pengawas Menelan
Obat. “Angka kesembuhan TBC sangat tergantung PMO. Bisa keluarga, kader, atau
perangkat desa. Pastikan pasien minum obat teratur selama 6 bulan tanpa putus,”
tegasnya. Di akhir paparan, ia mengajak seluruh lintas sektor satu data. “Data
kasus TBC harus sama dari RT sampai kabupaten. Dengan begitu intervensi kita
tepat sasaran dan eliminasi 2030 bisa tercapai.”
Sementara itu, narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi
Kalimantan Selatan, H. Rizqi Nofal, menyampaikan kebijakan dan dukungan
provinsi dalam percepatan eliminasi TBC.
“Provinsi Kalsel menargetkan eliminasi TBC tahun 2030 sesuai
target nasional. Untuk itu, kolaborasi kabupaten/ kota harus diperkuat. Tidak
bisa dinkes bekerja sendiri,” ungkap Rizqi Nofal.
Ia menjelaskan tiga pilar utama eliminasi TBC versi
Kemenkes. Pertama, penguatan promosi dan pencegahan. Kedua, peningkatan akses
layanan TBC bermutu. Ketiga, penguatan manajemen program. “Kuncinya ada di
hulu, yaitu penemuan kasus. Semakin cepat ditemukan, semakin cepat diobati,
semakin kecil penularan,” jelasnya.
Rizqi juga menekankan peran inovasi daerah. “Kabupaten
Banjar bisa replikasi praktik baik seperti integrasi skrining TBC dengan
Posyandu, Posbindu, atau saat pembagian bansos. Libatkan Forkopimcam dan tokoh
agama untuk edukasi hapus stigma.”
Menutup paparan, ia memastikan dukungan provinsi. “Anggaran,
logistik obat, dan pendampingan teknis akan terus kami kawal. Mari kita
buktikan bahwa Kalsel, khususnya Kabupaten Banjar, bisa jadi contoh eliminasi
TBC,” pungkasnya.
Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Beruntung Baru, Khairil
Anwar, menyambut baik arahan yang disampaikan dalam Rakor tersebut. Ia
menegaskan kesiapan kecamatan untuk menindaklanjuti di tingkat desa.
“Rakor ini sangat penting karena menyatukan langkah kita. Di
Kecamatan Beruntung Baru, kami siap memperkuat koordinasi dengan Puskesmas,
TKSK, dan para kades untuk aktif menemukan warga bergejala TBC. Pendataan
keluarga rawan dan edukasi hapus stigma akan kami masifkan lewat Posyandu dan
kegiatan desa,” ujar Khairil Anwar.
Ia menambahkan, peran PMO di tingkat desa akan diperkuat melalui kader. “Kami akan pastikan setiap pasien TBC di Beruntung Baru punya PMO dari keluarga atau kader terdekat. Kecamatan siap memfasilitasi agar pengobatan tidak putus di tengah jalan. Ini komitmen kami untuk Banjar bebas TBC,” tegasnya.
