Kasi Kurikulum SD Serahkan Buku 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di SDN Cindai Alus 2
MARTAPURA, InfoPublik – SDN Cindai Alus 2 Martapura melaksanakan apel bendera perdana secara khidmat pasca pembelajaran daring serta libur Cuti Nyepi dan Cuti Bersama Hari Raya Idulfitri. Kegiatan ini menjadi istimewa karena seluruh petugas upacara dipercayakan kepada dewan guru sebagai bentuk keteladanan nyata bagi para siswa, Senin (30/3/2026).
Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian SD Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, H. Muhamad Suriansyah, M.Pd, menyampaikan amanat yang menekankan pentingnya pembentukan karakter peserta didik. Ia mengajak seluruh warga sekolah untuk mengimplementasikan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) sebagai budaya positif di lingkungan sekolah.
Dalam amanatnya, ia juga mengingatkan kembali nilai-nilai dalam Ikrar Pelajar Indonesia yang meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, penghormatan kepada orang tua dan guru, semangat belajar, hidup rukun, serta cinta tanah air. Selain itu, penanaman tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat turut ditekankan sebagai fondasi pembentukan karakter sejak dini.
“Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang kita ajarkan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari,” ujar H. Muhamad Suriansyah. Pada kesempatan tersebut, ia juga menyerahkan buku bacaan tentang 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai upaya mendukung literasi sekaligus penguatan pendidikan karakter di sekolah dasar.
Pembina upacara turut menyoroti pentingnya pengawasan penggunaan gawai di era digital dengan menerapkan prinsip Screen Time, Screen Zone, dan Screen Break. Hal ini diharapkan mampu membentuk kebiasaan penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab di kalangan peserta didik.
Sementara itu, Kepala SDN Cindai Alus 2, Supiansyah, M.Pd, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Dinas Pendidikan serta dukungan yang diberikan. “Hal ini kami lakukan sebagai upaya memberikan contoh nyata kepada siswa tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa pelibatan guru sebagai petugas upacara merupakan tradisi sekolah pada momen tertentu untuk menanamkan nilai keteladanan.
