Edukasi Epilepsi di RSUD Ratu Zalecha, Tingkatkan Pemahaman Masyarakat
Edukasi Epilepsi di RSUD Ratu Zalecha, Tingkatkan Pemahaman
Masyarakat
MARTAPURA, InfoPublik — RSUD Ratu Zalecha menggelar penyuluhan kesehatan
tentang epilepsi di ruang tunggu poliklinik rawat jalan pada 11 Maret 2026.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber I Made Dwi
Jayantara, Sp.N., FIN., MH., CCD., CMC., CPLA., CHt., Akp. Med., bersama
Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS).
Dalam pemaparannya, dr. I Made menjelaskan bahwa
epilepsi merupakan gangguan pada sistem saraf pusat yang ditandai dengan kejang
berulang akibat aktivitas listrik abnormal di otak. Ia menegaskan bahwa
epilepsi bukan penyakit menular dan dapat dikendalikan dengan pengobatan serta
pemantauan medis secara rutin.
Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai
penyebab epilepsi, seperti kelainan struktur otak sejak lahir, cedera kepala,
infeksi otak, stroke, tumor otak, faktor genetik, hingga penyebab yang belum
diketahui secara pasti. Selain itu, dijelaskan pula gejala yang sering muncul,
seperti kejang, hilangnya kesadaran sementara, tatapan kosong, tubuh kaku atau
berkedut, serta rasa lelah setelah kejang.
Masyarakat juga diberikan edukasi mengenai
faktor pemicu kejang, antara lain kurang tidur, stres, demam tinggi, cahaya
berkedip, tidak teratur mengonsumsi obat, dan konsumsi alkohol.
Dalam penyuluhan tersebut, narasumber juga mengingatkan langkah pertolongan pertama saat seseorang mengalami kejang, yaitu tetap tenang, memindahkan penderita ke tempat yang aman, memiringkan kepala ke samping, tidak memasukkan benda ke dalam mulut, serta tidak menahan gerakan kejang. Jika kejang berlangsung lebih dari lima menit atau terjadi berulang, penderita perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
Ketua Tim PKRS RSUD Ratu Zalecha, Dwi Retmasushanty Arsini, mengatakan edukasi ini penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus mengurangi stigma terhadap penderita epilepsi.
“Melalui kegiatan ini kami berharap masyarakat dapat memahami epilepsi dengan lebih baik, sehingga dapat memberikan pertolongan pertama yang tepat dan tidak lagi memandang negatif penderita epilepsi,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab, dan peserta terlihat antusias mengikuti penyuluhan hingga selesai. Edukasi ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat serta meningkatkan kepedulian terhadap penderita epilepsi di lingkungan sekitar. (Brigade Humas Raza)
